Sabtu, 22 Desember 2012

Konflik Gas Rusia - Ukraina





Konflik Gas Rusia – Ukraina
 
            Gas alam merupakan salah satu komoditas yang sangat berpengaruh dalam menggerakkan sektor industri dan rumah tangga di Uni Eropa, gas alam ini sebagian besar dipasok dari Rusia yang dalam hal politik saat ini sedang membentuk Uni Eurasia (Eurasian Union) yaitu kerjasama kawasan yang akan dibentuk oleh Rusia dari negara bekas Uni Soviet yang didalamnya sudah berdiri tegak Rusia, Kazakhstan, dan Belarusia. Dalam memperkuat Uni Eurasia, Rusia kemudian mempengaruhi Ukraina untuk bergabung dalam Uni Eurasia namun Ukraina tengah berupaya untuk masuk sebagai anggota Uni Eropa. Berikutnya pasca Orange Revolution ketika penduduk Ukraina memutuskan untuk mendukung pemimpin anti Rusia, telah mendorong Rusia untuk memutuskan subsidi harga gas alam yang selama ini diberikan kepada Ukraina. Rusia juga berkeinginan agar Naftogaz (perusahaan gas Ukraina) bergabung dengan Gazprom (Perusahaan gas Rusia) sehingga Rusia dapat memonopoli setiap aktivitas distribusi gas alam yang pipa-pipanya melalui Ukraina. Ukraina menolak usulan Rusia karena hal tersebut akan bertentangan dengan prinsip Uni Eropa yang mengedepankan free trade.
                Ukraina sebagai negara yang berada diantara Rusia dengan Uni Eropa dilalui 80% dari total 40% impor gas alam negara-negara Uni Eropa dari Rusia yang diangkut melalui Ukraina. Sudah merupakan realitas bahwa posisi Uni Eropa lemah menghadapi keunggulan komparatif Rusia sebagai pemasok seperempat kebutuhan energi di Eropa. Rusia sebagai negara pemasok utama energi terutama gas alam ke negara-negara Eropa menjadikannya sebagai sutradara dalam penentuan hubungan Rusia dengan negara-negara Uni Eropa. Rusia yang memiliki cadangan minyak dan gas alam yang tinggi semakin menunjukkan peranan penting dalam menentukan posisi tawar Rusia di hadapan negara-negara Uni Eropa, apalagi ketergantungan negara-negara Eropa terhadap gas alam Rusia makin lama makin besar. Terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai suplai gas alam sejak Januari 2006 telah menyebabkan Gazprom, perusahaan gas Rusia, memutus suplai gas Rusia ke Eropa yang melalui Ukraina. Pemutusan suplai gas alam ini berdampak buruk bagi Eropa karena jaringan pipa gas yang melalui Ukraina memasok kurang lebih seperlima dari total kebutuhan gas di Eropa. Tercatat tujuh negara di Eropa Tengah dan Barat termasuk Italia dan Perancis kehilangan 14 persen dan 40 persen pasokan gas alamnya. Masalah ini dapat diselesaikan melalui kesepakatan antara kedua negara sehingga pada akhirnya Rusia kembali mengalirkan gas alam ke Eropa melalui Ukraina. 
Sayangnya, masalah ini terulang kembali ketika Gazprom memutuskan aliran gas Rusia ke Eropa yang melalui Ukraina ketika Naftogaz gagal membayar hutang sebesar $ 2 milyar untuk pengiriman gas tahun 2008. Perseteruan antara keduanya dipicu oleh gagalnya kesepakatan antara Moskow-Kiev mengenai harga gas. Pada satu sisi Gazprom menginginkan agar Ukraina membayar sebesar $ 450 per 1000 m³. Namun pada sisi lain harga ini ditolak oleh Ukraina dengan alasan bahwa negara tersebut hanya mampu membayar $ 235  per tcm itupun dengan syarat kenaikan pembayaran biaya transit dari Rusia karena Rusia mengangkut lebih dari 80 persen gas alam untuk dikirimkan ke negara-negara Eropa melalui Ukraina. Selain ,asalah yang telah dipaparkan diatas, masalah penentuan harga ini juga menjadi pemicu konflik tidak langsung yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina yang sangat berdampak bagi Uni Eropa
Di kalangan negara-negara Eropa muncul kekhawatiran akan terulangnya kembali konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai ketidaksamaan harga gas alam yang menyebabkan putusnya pasokan gas alam Rusia ke Eropa pada tahun 2009 sehingga negara-negara Eropa ini tidak mendapatkan akses gas alam untuk memenuhi kebutuhan listrik. Konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai pengiriman gas alam tersebut menyebabkan tujuh negara Eropa terhenti pasokan gas alamnya bahkan Rusia mengurangi pasokan gas alam  ke negara lain secara drastis. 
Konflik yang tidak kunjung berakhir antara Rusia dan Ukraina memunculkan kekhawatiran bagi negara-negara Uni Eropa karena hingga saat ini negara-negara Uni Eropa masih sangat tergantung dengan impor gas alam Rusia yang diangkut melalui Ukraina. Selama ini Rusia memiliki peranan sangat besar dalam perdagangan energi di Eropa khususnya minyak bumi dan gas alam sehingga Eropa sangat tergantung dengan suplai energi dari Rusia. Gazprom, perusahaan minyak nasional yang mengelola gas alam di Rusia, memiliki kekuatan penuh dalam hal produksi, distribusi, dan penentuan harga, sehingga semua masalah energi dikendalikan dibawah kepentingan pemerintah Rusia. 
Kondisi tersebut yang selalu dikhawatirkan oleh Uni Eropa sehingga Uni Eropa sangat tertarik dengan reformasi pasar energi di Rusia khususnya upaya Uni Eropa untuk melakukan liberalisasi atas monopoli pasokan dan pasar gas alam Rusia melalui Gazprom. Sayangnya, hal ini ditolak oleh Rusia karena Rusia akan mensuplai energi ke Uni Eropa melalui kontrak jangka panjang dengan klausul didalamnya yang menyatakan adanya territorial restriction yaitu apabila suatu negara menerima pasokan energi yang berlebih dari Rusia maka negara tersebut tidak boleh menjual energi ke negara lain. Monopoli tersebut menyebabkan Gazprom bebas menentukan harga energi yang berbeda antara satu negara Uni Eropa dengan negara Uni Eropa lain padahal sesama negara Uni Eropa terikat peraturan single market. Disinilah letak kekuatan pasar energi uisa di negara-negara Eropa bahkan para pejabat Uni Eropa telah memperingatkan akan munculnya situasi krisis, sehingga akibat kekhawatiran bersama tersebut, Uni Eropa mencoba merumuskan kebijakan energi bersama bagi negara-negara Uni Eropa untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.
                Sebenarnya, keseragaman kebijakan energi Uni Eropa sudah menjadi prioritas utama sejak pertengahan tahun 1990 yang ditandai dengan dikeluarkannya green paper mengenai liberalisasi sektor kelistrikan. Namun baru sekitar tahun 2000 harmonisasi kebijakan energi mulai dikonsentrasikan pada penguatan suplai energi. Terdapat beberapa usaha yang dilakukan oleh Uni Eropa mengenai harmonisasi kebijakan energi yaitu diversifikasi sumber energi dan stockpiling, sayangnya kebijakan-kebijakan tersebut masih berorientasi internal yang hanya mengatur dan mengikat sesama negara anggota Uni Eropa saja. Sementara kebijakan Uni Eropa untuk third national country belum mendapatkan perhatian yang cukup besar dari negara-negara pengekspor energi karena setiap negara Uni Eropa memiliki tingkat ketergantungan energi yang berbeda dari para negara pensuplai energi. 
Bahkan sudah tidak mengejutkan lagi ketika beberapa tahun terakhir terjadi ketegangan hubungan antara negara pensuplai energi, Rusia, dan Uni Eropa, terkait adanya kekhawatiran bahwa Rusia akan menggunakan suplai gas alam ke Uni Eropa sebagai alat politiknya. Contoh konkret mengenai kekhawatiran tersebut muncul tahun 2009 ketika Rusia hanya mau bernegosiasi mengenai harga gas alam dengan Ukraina apabila Ukraina bersedia menjadi anggota Uni Eurasia serta perusahaan gas nasional Ukraina, Naftogaz, bersedia bergabung dengan Gazprom. Hal ini dilakukan Rusia untuk dapat memonopoli perdagangan gas alam ke negara-negara Eropa. 

                  Pada kenyataannya, pasokan energi Uni Eropa dari Rusia juga masih rentan hingga saat ini karena, pertama, Rusia terus melakukan tekanan politik terhadap negara yang wilayahnya dilalui pipa gas alam ke Eropa seperti di Ukraina, sehingga secara tidak langsung konflik Rusia dengan negara transit point ini juga mengancam keamanan energi Uni Eropa. Kedua, pada satu sisi Uni Eropa terkesan enggan untuk mengalihkan suplai gas alamnya dari negara-negara Asia Tengah karena mahalnya biaya investasi untuk mengalirkan gas alam tersebut, sementara pada sisi lain Rusia melalui perusahaan energinya, Gazprom, gencar berinvestasi dalam penambahan jalur-jalur pipanya. Konflik tidak langsung yang melibatkan Rusia dengan Ukraina ini merupakan konflik yang disebabkan oleh beberapa masalah seperti masalah ekonomi, sumber daya alam dan politik.Konflik ini tergolong rumit sebab berdampak sistemik pada negara-negara Uni Eropa mulai dari perkembangan ekonominya, sampai pada kebijakan eksternal yang akan diambil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar